RSS

Susu UHT atau Pasteurisasi?

Bagi beberapa orang, meminum susu adalah suatu hal yang sangat penting. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kandungan gizi yang dapat diperoleh dari meminum susu, mulai dari vitamin D, kalsium, protein, dll. Namun saat berbelanja susu ke supermarket ataupun minimarket ataupun pasar swalayan, pernahkah anda mengecek label yang tertera pada kotak susu yang akan anda beli? Manakah yang lebih baik? Susu UHT atau pasteurisasi? Pada artikel ini, saya akan menjelaskan secara singkat apa perbedaan kedua jenis susu tersebut beserta proses pembuatannya.

Susu pasteurisasi adalah susu yang melalui proses pasteurisasi. Apa yang dimaksud dengan pasteurisasi?Proses pasteurisasi pertama kali ditemukan pada tahun 1862 oleh Louis Pasteur dan Claude Bernard, dua ilmuwan asal Perancis. Pasteurisasi adalah proses pemanasan dalam suhu 72oC atau 161.5oF selama 2 detik. Akibatnya, sebagian mikroorganisme mati hingga aman untuk dikonsumsi karena mikroba patogen sudah dimusnahkan. Susu pasteurisasi biasanya dikemas dalam kotak karton dan untuk penyimpanannya harus disimpan di lemari pendingin terutama setelah dibuka dan dikonsumsi karena susu pasteurisasi juga memiliki waktu kadaluwarsa yang cukup singkat, yaitu sekitar 1-2 minggu dan waktu kadaluarsanya biasanya akan sesuai dengan temperatur penyimpanan yang tertera di kemasan.

Susu UHT adalah susu yang melalui proses Ultra High Temperature. Proses ini dilakukan dengan memanaskan susu pada suhu 138oC (280oF) selama 2-3 detik dan segera didinginkan pada suhu 4-5oC. Waktu pemanasan selama 2-3 detik dimaksudkan untuk mencegah rusaknya gizi yang terkandung pada susu, warna, aroma, dan rasa agar tidak terlalu berbeda dengan aslinya. Semua mikroorganisme termasuk bakteri patogen akan mati setelah melalui proses ini. Waktu kadaluarsa dari susu UHT relatif panjang, yaitu sekitar 6 minggu dan tempat penyimpanannya cukup fleksibel (disarankan di tempat dingin).

Namun, kedua jenis susu tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari susu pasteurisasi adalah cita rasa susu yang lebih menarik bagi konsumen karena masih segar dan proses ini mampu menginaktifkan enzim katalase dan fosfatase yang mempercepat proses kerusakan pada susu. Kekurangan dari susu pasteurisasi terletak pada waktu kadaluarsa yang singkat dan proses ini tidak mematikan spora, namun hanya menghambat pertumbuhan spora karena spora bersifat termoresisten sehingga sulit untuk membunuh spora. Susu UHT juga memiliki kelebihan yaitu panjangnya daya simpan walau pada suhu ruang dan susu UHT bebas dari mikroba, selain itu warna, dan penampakan yang dimiliki juga masih mirip dengan susu segar. Kekurangan susu UHT terletak pada cita rasanya kurang sesegar susu pasteurisasi dan zat gizi yang terkandung akan rusak sebagian karena suhu panas pada proses UHT.

Menurut pendapat saya, kedua susu ini memiliki kebaikan masing-masing. Hal tersebut disebabkan pemilihan kedua jenis susu ini tergantung dari jumlah anggota keluarga di rumah dan frekuensi meminum susu dari masing-masing keluarga. Apabila anda lebih menyukai susu yang segar untuk diminum setiap hari, maka akan lebih baik bila anda membeli susu pasteurisasi. Namun, apabila anda lebih mementingkan keawetan dari susu, maka lebih baik anda membeli susu UHT.

Let’s give a toast to mother nature’s gift

 

Posted by on January 7, 2016 in Educational

Leave a comment

Tags: , , ,

Kuliah Perilaku Konsumen Minggu Pertama

Nama: Andrian

Ilmu dan Teknologi Pangan (http://fst.ipb.ac.id/)

Fakultas Teknologi Pertanian (http://fateta.ipb.ac.id/)

Insitut Pertanian Bogor (http://ipb.ac.id)

Kuliah Perilaku Konsumen IKK233 (Consumer Behavior Class)

Department of Family and Consumer Sciences, (www.ikk.fema.ipb.ac.id)

College of Human Ecology (www.fema.ipb.ac.id)

Bogor Agricultural University IPB (www.ipb.ac.id)

 

Prof Dr Ir UJANG SUMARWAN, MSc (www.sumarwan.staff.ipb.ac.id, www. Ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, sumarwan@mb.ipb.ac.id)

Dr. Ir. Lilik Noor Yuliati, MFSA

Dr. Ir. Megawati simanjuntak, MS

Ir. Retnaningsih, MS

Ir. Md djamaluddin, MSc

 

Buku Kuliah:

Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.

 buku-perilkon

 Kuliah Kamis, 12 Februari 2015

Kuliah perilkon minggu pertama dimulai dengan melakukan pengenalan terhadap konsumen. Setiap mahasiswa diwajibkan untuk menyebutkan satu kata yang berhubungan dengan kata konsumen. Kemudian dimulai dengan melakukan penjelasan tentang arti dari konsumen. Konsumen berkaitan dengan subjek, apa yang diinginkan oleh si subjek, apa yang dilakukan subjek untuk mendapatkan objek yang diinginkannya, dan pola pikir dari subjek.

Ada tiga definisi dari perilaku konsumen menurut pengamatan dari sesama konsumen dan menurut literatur. Menurut sesama konsumen pertama, menginginkan barang dengan harga rendah, tetapi dengan kualitas terbaik, menginginkan layanan yang cepat, rela mengeluarkan uang demi barang yang diinginkan. Kedua, suka menawar, membandingkan produk dan harga, mencari produk yang baik, mengikuti tren, mencari informasi tentang produk/jasa yang akan dibeli, melihat manfaat, mengikuti selera. Ketiga, rela antri berjam-jam untuk mendapatkan produk baru dengan harga perdana, berani membayar lebih mahal untuk produk berkualitas, cenderung membeli produk secara kredit menggunakan kartu kredit. Sedangkan menurut literatur, seperti Schiffman dan Kanuk, perilaku konsumen adalah perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memenuhkan kebutuhan mereka.

Ada tiga perspektif riset perilaku konsumen, pertama adalah perspektif pengambilan keputusan yaitu, konsumen memiliki masalah dan melakukan proses pengambilan keputusan rasional untuk memecahkan masalah tersebut. Kedua adalah perspektif eksperensial (pengalaman) yaitu, konsumen sering mengambil keputusan membeli produk tidak berdasarkan keputusan rasional namun untuk alasan kegembiraan atau emosi yang diinginkan. Ketiga adalah perspektif pengaruh behavioral yaitu, konsumen membeli produk bukan dengan alasan rasional atau emosional melainkan karena dipengaruhi faktor luar seperti pemasaran, budaya, lingkungan, dan ekonomi.

Dalam melakukan pembelian barang, konsumen pasti memiliki motivasi. Motivasi adalah daya dorong yang muncul dari seorang konsumen yang akan mempengaruhi proses keputusan konsumen dalam membeli dan menggunakan barang dan jasa. Motivasi muncul karena ada kebutuhan, kebutuhan muncul karena konsumen merasa tidak nyaman, dan kebutuhan mendorong untuk melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

 

 

 

 

 

 

Posted by on February 16, 2015 in Tugas

Leave a comment

Tags:

Tugas Praktikum Penkom 3

Sistem Operasi pada Android

Berikut ini akan saya tunjukkan cara untuk melakukan manajemen data pada ponsel Android walaupun saya tidak punya ponsel dengan OS Android.

Berikut adalah spesifikasi dari OS Android yang (teman) saya pakai.

Screenshot_2014-09-24-08-28-38

  1. Management File and Directory

Screenshot_2014-09-24-08-36-10  Screenshot_2014-09-24-08-39-17

Untuk melakukan management file kita dapat membuka My Files dan melakukan pengaturan-pengaturan di directory yang ada yaitu pada Storage Device dan pada SD Card. Jenis file yang dapat diakses bermacam-macam: .doc, .ppt, .pdf, .jpg, .png, dan lain sebagainya. Kita dapat membuat folder baru, rename, copy, paste, move dan lain-lain.

 

  1. Fasilitas Kompresi File pada Android

Screenshot_2014-09-24-08-54-15  Screenshot_2014-09-24-08-54-58  Screenshot_2014-09-24-08-55-22

Untuk melakukan kompresi file pada Android, kita bisa install apps RAR. Aplikasi ini berfungsi untuk mengekstrak dan mengompress file rar, zip, dll.

 

  1. Contoh Utilitas pada Android

Screenshot_Alarm_Briefing

Alarm

 

Posted by on September 26, 2014 in Tugas

Leave a comment

Tags:

Tugas Praktikum Penkom 2

My Notebook Specification

Notebook yang saya gunakan tersusun atas berbagai hardware. Sekarang saya akan melakukan pembahasan terhadap pengaturan hardware

  1. Keyboard

1        2

Windows Menu -> ketik “Keyboard”

Repeat Delay: untuk mengatur delay dari suatu karakter yang akan terulang apabila kita menahan tuts

Repeat Rate: untuk mengatur kecepatan pengulangan input suatu karakter apabila kita menahan tuts

Cursor Blink Rate: untuk mengatur kecepatan berkedipnya kursor

 

  1. Mouse

3        4

5        6

Gambar pertama yang mengatur double-click speed berfungsi untuk mengatur delay dari double click kita menjadi lebih cepat atau lebih lama. Gambar kedua, yaitu bagian pointers berfungsi untuk mengatur kustomisasi  pointer mouse. Gambar ketiga menunjukkan  4 setingan pointer  yang berbeda, pointer speed menunjukkan perubahan kecepatan pada pointer, display pointer trails membuat efek pada pointer untuk efek shadow, hide pointer while typing, dimana pointer akan hilang ketika sedang mengetik, show pointer , menunjukkan pointer ketika menekan CTRL key.

 

  1. RAM, VGA, dan Processor

7

Menu->Computer (right click)-> Properties

 

  1. Screen Resolution

8

Right Click->Screen Resolution

Berfungsi untuk mengganti resolusi layar

 

  1. Sounds

9

Control Panel->Hardware and Sound->Sound

Berfungsi untuk mengatur suara yang keluar dari speaker dan recording dari microphone

 

  1. Devices and Printers

10

Control Panel->Hardware and Sound-> Devices and Printers

Berfungsi untuk menunjukkan status hardware yang tersambung dengan laptop kita.

 

  1. Program (D:) Properties

11

Computer-> Right Click Program (D:)-> Properties

 

  1. Network and Sharing Center

12

Control Panel->Network and Internet->Network and Sharing Center

Berfungsi untuk mengatur bagaimana computer kita melakukan koneksi ke internet atau untuk menyusun jaringan ataupun koneksi baru

 

Posted by on September 18, 2014 in Tugas

Leave a comment

Tags:

Pengalaman Praktikum Penkom Pertama

Wohooo my first blog post evah (well second technically)…….

 

Sebenernya…. kemaren bener-bener gaada apa-apa sih pas penkom. Kita cuma aktifin student blog yang ga bisa diakses sama beberapa anak dan buat semacem resume artikel juga customize student blog kita sendiri. But yeah gw jd bisa download-download beberapa hal selama praktikum penkom :D. Yah semoga di kelas praktikum penkom ini gw bisa belajar banyak hal dan berguna buat ke depannya.

 

Posted by on September 9, 2014 in Tugas

Leave a comment

Tags:

Prinsip dan Teknik Pengawetan Pangan

Reaksi kimiawi dan enzimatis membutuhkan kondisi lingkungan yang optimum (misalnya suhu, pH, konsentrasi garam, dan faktor lainnya). Jadi untuk melakukan pengawetan, kita harus dapat membuat lingkungan yang tidak layak bagi mikroorganisme untuk hidup. Kehilangan mutu dan kerusakan pangan disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. pertumbuhan mikroba yang menggunakan pangan sebagai substrat untuk memproduksi toksin didalam pangan;
  2. katabolisme dan pelayuan (senescence) yaitu proses pemecahan dan pematangan yang dikatalisis enzim indigenus;
  3. reaksi kimia antar komponen pangan dan/atau bahan-bahan lainnya dalam lingkungan penyimpanan;
  4. kerusakan fisik oleh faktor lingkungan (kondisi proses maupun penyimpanan) dan
  5. Kontaminasi serangga, parasit dan tikus.



Untuk mengontrol kerusakan kita harus membuat kondisi yang dapat menghambat terjadinya reaksi yang tidak dikehendaki. Secara umum, penyebab utama kerusakan produk susu, daging dan unggas adalah mikroorganisme sementara penyebab utama kerusakan buah dan sayur pada tahap awal adalah proses pelayuan (senescence) dan pengeringan (desiccation) yang kemudian diikuti oleh aktivitas mikroorganisme. Prinsip pengawetan pangan ada tiga, yaitu:

  1. Mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial;
  2. Mencegah atau memperlambat laju proses dekomposisi (autolisis) bahan pangan; dan
  3. Mencegah kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan termasuk serangan hama. Mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial dapat dilakukan dengan cara:
      • mencegah masuknya mikroorganisme (bekerja dengan aseptis);
      • mengeluarkan mikroorganisme, misalnya dengan proses filtrasi;
      • menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme, misalnya dengan penggunaan suhu rendah, pengeringan, penggunaan kondisi anaerobik atau penggunaan pengawet kimia;
      • membunuh mikroorganisme, misalnya dengan sterilisasi atau radiasi.



Mencegah atau memperlambat laju proses dekomposisi (autolisis) bahan pangan dapat dilakukan dengan cara destruksi atau inaktivasi enzim pangan, misalnya dengan proses blansir dan atau dengan memperlambat reaksi kimia, misalnya mencegah reaksi oksidasi dengan penambahan anti oksidan.

Pengolahan (pengawetan) dilakukan untuk memperpanjang umur simpan (lamanya suatu produk dapat disimpan tanpa mengalami kerusakan) produk pangan. Proses pengolahan apa yang akan dilakukan, tergantung pada berapa lama umur simpan produk yang diinginkan, dan berapa banyak perubahan mutu produk yang dapat diterima. Berdasarkan target waktu pengawetan, maka pengawetan dapat bersifat jangka pendek atau bersifat jangka panjang.

Pengawetan jangka pendek dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya penanganan aseptis, penggunaan suhu rendah (<20°C), pengeluaran sebagian air bahan, perlakuan panas ‘ringan’, mengurangi keberadaan udara, penggunaan pengawet dalam konsentrasi rendah, fermentasi, radiasi dan kombinasinya. 

Penanganan aseptis merupakan proses penanganan yang dilakukan dengan mencegah masuknya kontaminan kimiawi dan mikroorganisme kedalam bahan pangan, atau mencegah terjadinya kontaminasi pada tingkat pertama. Penanganan produk dilakukan untuk mencegah kerusakan produk yang bisa menyebabkan terjadinya pengeringan (layu), pemecahan enzim alami dan masuknya mikroorganisme.

Penggunaan suhu rendah bertujuan untuk memperlambat laju reaksi kimia, reaksi enzimatis dan pertumbuhan mikroorganisme tanpa menyebabkan kerusakan produk. Beberapa perubahan kimia seperti terjadi pada tepung, sereal, biji-bijian, minyak disebabkan oleh keberadaan air. Air dibutuhkan mikroorganisme untuk mempertahankan hidupnya. Pengeluaran sebagian kandungan air bahan melalui proses pemekatan atau pengeringan akan menurunkan laju reaksi kimiawi, enzimatis maupun mikrobial.

Perlakuan panas ringan (pasteurisasi dan blansir) dilakukan pada suhu <100°C. Proses blansir akan merusak sistem enzim dan membunuh sebagian mikroorganisme. Tetapi, sebagian besar mikroorganisme tidak dapat dihancurkan oleh proses blansir. Pasteurisasi menggunakan intensitas suhu dan waktu pemanasan yang lebih besar daripada blansir. 

Pasteurisasi akan menginaktifasi enzim, membunuh mikroorganisme patogen (penyebab peyakit) dan sebagian mikroorganisme pembusuk. Beberapa reaksi penyebab kerusakan pangan dipicu oleh oksigen. Reaksi kimiawi seperti oksidasi lemak (ketengikan) yang terjadi pada minyak sayur, biji-bijian, buah-buahan, sayuran, susu, daging dan reaksi pencoklatan pada buah dan sayur dapat diperlambat dengan mengurangi kehadiran oksigen.

Penggunaan pengawet dengan konsentrasi rendah dan proses fermentasi juga merupakan cara yang dapat dilakukan untuk pengawetan temporer. Gula, garam, asam dan SO2 menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Asam laktat yang dihasilkan selama proses fermentasi akan menghambat pertumbuhan kapang dan kamir. Pemaparan pangan dengan radiasi elektromagnetik bisa merusak atau menghambat beberapa mikroorganisme dan sistim enzim alami tanpa perubahan nyata pada kualitas produk.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk pengawetan jangka panjang adalah pemanasan pada suhu tinggi (?100°C), penggunaan pengawet kimia, pengeringan, pengeluaran udara (pemvakuman), pembekuan dan kombinasi proses. Pemanasan pada suhu tinggi yang dilakukan bersama-sama dengan pengemasan yang bisa mencegah rekontaminasi, dapat menghambat/merusak mikroorganisme dan enzim.

Penggunaan gula atau garam dengan konsentrasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan reaksi enzimatis, seperti yang dilakukan pada pembuatan jeli dan dendeng. Pengawet alami seperti etanol, asam asetat dan asam laktat yang dihasilkan oleh mikroorganisme terpilih selama proses fermentasi bisa menghambat pertumbuhan mikroorga-nisme pembusuk. Penambahan pengawet seperti asam benzoat dan asam propionat juga berfungsi menghambat mikroorganisme secara selektif.

Proses pengeringan akan mengeluarkan air dan menyebabkan peningkatan konsentrasi padatan terlarut didalam bahan pangan. Kondisi ini akan meningkatkan tekanan osmotik didalam bahan, sehingga menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperlambat laju reaksi kimia maupun enzimatis.

Penghilangan udara akan mengeluarkan semua oksigen sehingga mencegah berlangsungnya reaksi kimiawi dan enzimatis yang dipicu oleh oksigen, juga menghambat pertumbuhan mikroorganisme aerobik.

Perlakuan pembekuan (freezing) secara signifikan akan memperlambat laju reaksi kimiawi dan enzimatis serta menghambat aktivitas mikroorganisme. Proses pengawetan biasanya dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa metode pengawetan. Sebagai contoh, pembuatan susu pasteurisasi yang ditujukan untuk pengawetan jangka pendek dilakukan dengan kombinasi proses pemanasan ringan (pasteurisasi), pengemasan dan penyimpanan pada suhu rendah (refrigerasi).

Proses pengalengan yang ditujukan untuk pengawetan jangka panjang, dilakukan dengan melibatkan proses pengeluaran udara, pengemasan, pengaturan pH dan penggunaan suhu tinggi (sterilisasi). Juga penting diperhatikan penggunaan \ wadah (container) dan kemasan yang dapat melindungi produk dari mikroorganisme untuk menghindari terjadinya rekontaminasi selama penyimpanan.

Pengarang : Elvira Syamsir

Sumber: http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Prinsip+dan+Teknik+Pengawetan+Makanan+(+Pangan+)&&nomorurut_artikel=93

 

Posted by on September 5, 2014 in Tugas

Leave a comment

Tags:

Hello world!

Welcome to Student.ipb.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

 

Posted by on September 5, 2014 in Uncategorized

1 Comment